Menulis Kitab Tanbihul Ghofilin

Ketika diberi saran oleh guru untuk menulis mutiara2 yang ada dalam kitab Tanbihul Ghofilin, saya sebenarnya agak minder, sebab saya tahu isinya sudah pasti akan menampar saya tanpa ampun.Ketika melewati Bab Ikhlas, Aku malu karena ternyata sebagian besar amal yang kulakukan selama ini masih ingin dilihat, ingin dipuji, dan ingin dianggap baik. Aku bilang ini untuk Allah, tapi dalam hati masih berharap manusia tahu. Ketika melewati bab dahsyatnya kematian, aku sadar, bahwa aku sering lalai, membayangkan rencana hidup sampai jauh ke depan, Seolah aku yakin akan hidup lama. Padahal kematian itu sangatlah dekat, bukan karena kapan waktunya, melainkan karna itu pasti terjadi.

Ketika melewati bab Adzab Kubur. Aku bertanya? Jika aku mati malam in? amal apa yang akan ikut masuk ke dalam kuburku? Apakah sudah cukup untuk menolongku?Ketika melewati bab Kiamat, apa nanti akan selamat. aku merasa sering takut dinilai orang. Takut salah. Takut dipandang buruk. Padahal ada hari yang jauh lebih menakutkan, hari dimana semua yang kusembunyikan terbuka. Hari ketika satu-satunya penolong hanyalah amal kita masing2.Ketika membaca Bab sifat neraka. Neraka membuatku berpikir ulang tentang setiap maksiat kecil yang kubiarkan begitu saja. Ketika membaca bab sifat Surga, aku merasa ingin segera ke sana, bahwa semua rasa lelah menjaga diri dari dosa benar-benar ada balasannya. Surga membuatku ingin memperbaiki diri, bahkan ketika aku sering gagal melakukannya.

Ketika membaca bab Rahmat Allah. Aku sering merasa tak layak. Dan mungkin itu wajar. Tapi aku yakin bahwa Rahmat-Nya pasti akan menggapaiku. Entah bagaimana caranya.Membaca bab Amar Ma’ruf Nahi Munkar, bagian yang paling menamparku, bagaimana mungkin aku menasehati orang lain sedang aku sendiri masih kurang dalam banyak hal?Dan ketika membaca bab taubat. Aku merasa sedikit lega, sebab di sini masih ada setitik harapan untuk kembali. Bukan soal berapa kali seseorang jatuh dalam dosa.Tapi berapa kali ia memilih untuk kembali lagi. Sebab orang yang bertaubat tidaklah menetapi suatu dosa, meski ia jatuh ke lubang yang sama tujuh puluh kali dalam sehari. Wallahua'lambisshowaab

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا (النساء: ١١٠)، وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (١٣٥) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (آل عمران: ١٣٥-١٣٦)

Subscribe to Lutfi Alhakim

Don’t miss out on the latest issues. Sign up now to get access to the library of members-only issues.
[email protected]
Subscribe